Prinsip utama ergonomi adalah bagaimana menyesuaikan pekerjaan dengan pekerja. Artinya, perancangan suatu alat/pekerjaan harus berdasarkan penggunaan oleh manusia, dan harus dipertimbangkan mengenai kemampuan dan kemauan manusia. Manusia dengan segala sifat dan tingkah lakunya merupakan makhluk yang sangat kompleks. Untuk mempelajari manusia, tidak cukup ditinjau dari satu disiplin ilmu saja. Oleh sebab itulah untuk mengembangkan Ergonomi diperlukan dukungan dari berbagai disiplin ilmu, antara lain psikologi, antropologi, faal kerja atau fisiologi, biologi, sosiologi, perencanaan kerja, fisika, dan lain-lain. Masing-masing disiplin tersebut berfungsi sebagai pemberi informasi. Pada gilirannya, para perancang, dalam hal ini para ahli teknik, bertugas untuk meramu masing-masing informasi di atas, dan menggunakannya sebagai pengetahuan untuk merancang fasilitas kerja sehingga mencapai kegunaan yang optimal.
Apabila antara manusia (pemakai) dan kondisi hasil desain yang sifatnya fisik atau mekanismenya tidak aman, itu berarti terjadi ketidakmampuan pelaksanaan fungsi secara baik, sehingga berakibat pada kesalahan manusiawi (human errors), kegagalan akhir pada desain yang tidak baik, kesulitan dalam produksi, kegagalan produk, bahkan menimbulkan kecelakaan kerja, bisa diartikan merancang produk untuk mencegah terjadinya kesalahan akan jauh lebih mudah bila dibandingkan mengharapkan orang atau operator jangan sampai melakukan kesalahan pada saat mengoperasionalkan produk tersebut. Memperhatikan hal tersebut, diperlukan pengetahuan dan penyelidikan tentang ketepatan atau kepresisian, kesesuaian, kesehatan, keselamatan, keamanan dan kenyamanan manusia dalam bekerja. Faktor perbedaan ukuran atau postur dan berat badan manusia, kebiasan, perilaku, sikap manusia dalam beraktivitas, serta kondisi lingkungan juga memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia antara lain umur, jenis kelamin (dimensi tubuh laki-laki umumnya lebih besar dari wanita), suku bangsa, dan posisi tubuh. Sedangkan dalam perancangan desain, pertimbangan ergonomi yang nyata dalam aplikasinya untuk mendapatkan data ukuran tubuh yang akurat menggunakan pengukuran anthropometri. Anthropometri adalah ilmu yang berkaitan dengan pengukuran dimensi dan cara untuk mengaplikasikan karakteristik tertentu dari tubuh manusia.
9.1 Kaitan antara Psi. Rekayasa/Ergonomi dengan Psi. Lingkungan
Psikologi lingkungan adalah bidang psikologi yang menggabung-gabungkan dan menganalis transaksi serta tata hubungan dari pengalaman serta tindakan manusia dengan aspek-aspek dari lingkungan sosiofisiknya yang terkait. Sedangkan psikologi kerekayasaan adalah penerapan psikologi yang berkaitan dengan interaksi antara manusia dan mesin untuk meminimalisasikan kesalahan manusia ketika berhubungan dengan mesin (human error). Tujuan dari penerapan psikologi kerekayasaan adalah membantu dalam merancang peralatan kerja, tugas-tugas yang harus dikerjakan, tempat kerja, dan lingkungan kerja menjadi suatu kondisi yang merangsang kemampuan kerja dan meminimal keterbatasan kerja karyawan. Rancangan ini melingkupi ; kinerja karyawan, pengembangan alat dan sistem kerja, meneliti tentang efek medis biologis dari tugas dan peralatan kerja terhadap kinerja.
Psikologi kerekayasaan membahas pengaruh timbal balik dari berbagai kondisi dengan tenaga kerjanya dan rancangan pekerjaan (meliputi peralatan kerja, prosedur kerja), rancangan ruang kerja yang disesuaikan dengan keterampilan dan keterbatasan manusia. Tujuan dari bidang ini adalah membantu merancang peralatan, tugas-tugas, tempat-tempat kerja dan lingkungan kerja, sedemikian rupa sehingga merupakan pasangan kerja, yang paling tepat bagi kemampuan dan keterbatasan tenaga kerja.
Erat hubungannya dengan psikologi kerekayasaan adalah rekayasa faktor-faktor manusia. Ancangan rekayasa faktor-faktor manusia adalah penerapan sistem dari informasi yang relevan tentang ciri-ciri dan perilaku manusia pada rancangan/disain dari benda-benda yang digunakan orang, pada metode penggunaannya dan untuk merancang lingkungan tempat orang bekerja dan hidup. Sasaran dari kerekayasaan faktor-faktor manusia adalah menunjang atau menggalakkan efektivitas penggunaan objek-objek fisik dan fasilitas-fasilitas yang digunakan orang dan untuk memelihara atau menunjang nilai-nilai kemanusiaan tertentu, yang dalam proses ini ingin dipuaskan.
Kaitan antara psikologi kerekayasaan dengan psikologi lingkungan adalah terkait dengan lingkungan kerja. Lingkungan kerja menunjuk pada hal-hal yang berada di sekeliling dan melingkupi kerja karyawan di kantor. Kondisi lingkungan kerja lebih banyak tergantung dan diciptakan oleh pimpinan, sehingga suasana kerja yang tercipta tergantung pada pola yang diciptakan pimpinan. Lingkungan kerja dalam perusahaan, dapat berupa: Struktur tugas, Desain pekerjaan, Pola kepemimpinanPola kerjasama, Ketersediaan sarana kerja, Imbalan (reward system). Fokus perhatian ergonomi adalah berkaitan erat dengan aspek-aspek manusia di dalam perencanaan man-made objects (proses perancangan produk) dan lingkungan kerja. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia. Ada beberapa definisi menyatakan bahwa ergonomi ditujukan untuk “fitting the job to the worker”, sementara itu ILO antara lain menyatakan, sebagai ilmu terapan biologi manusia dan hubungannya dengan ilmu teknik bagi pekerja dan lingkungan kerjanya, agar mendapatkan kepuasan kerja yang maksimal selain meningkatkan produktivitasnya”.
Iluminasi, Efek iluminasi dalam lingkungan kerja terhadap kerja, Serta Penelitiannya
Iluminasi (illumination) adalah datangnya cahaya ke suatu objek. Iluminansi merupakan besaran penerangan yang kaitannya erat dengan kuat penerangan penerangan (E). iluminansi adalah penyataan kuantitatif jumlah cahaya yang dipantulkan oleh permuakaan pada suatu arah. (Muhaimin, 2001). iluminansi suatu permukaan ditentukan oleh kuat penerangan dan kemampuan memantulkan cahaya oleh permukaan. Kemampuan memantulkan cahaya oleh permukaan disebut faktor refleksi atau reflektasi ( δ ). Pengertian iluminansi dapat dijelaskan sebagai berikut jika terdapat
moniior komputer diatas meja arus cahaya yang sampai pada monitor maupun meja adalah sama demikian pula kuat penerangannya. Namun Luminansi untuk Monitor lebih besar karena faktor reflekstasi monitor lebih besar dibanding reflekstasi meja. Cahaya ini dapat diukur dengan suatu light meter yang ditunjukkan atau diarahkan pada permukaan. Cahaya tersebut bergantung pada intensitas dari sumber dan refleksi dari permukaan. Mata Berdasarkan kondisi-kondisi inilah, mata tidak mungkin dapat membedakan warna-warna. Selain itu juga dapat mendeteksi pergerakan pada permukaan, suatu penggunaan yang bermanfaat dari karakteristik yang ada dalam hal peringatan bahaya yang mungkin terjadi. Penglihatan dimulai ketika “paket” energi elektromagnetik yang disebut foton diubah menjadi sinyal saraf bahwa otak dapat menguraikan pesan/sandi dan menganalisanya. Translasi ini dilakukan baik oleh Batang maupun Kerucut. Setiap Batang mengandung 100 juta molekul pigmen peka cahaya yang disebut rhodopsin. Rhodopsin tersusun dari sebuah molekul organik penyerap cahaya turunan vitamin A yang disebut 11-cis retinal.
Penglihatan yang baik didefinisikan dengan kuantitas pencahayaan yang memenuhi untuk visual task yang diharapkan, membutuhkan distribusi yang seragam dari illuminance dan luminance, pencahayaan yang cukup pada model obyek tiga-dimensional dan permukaan (arah jatuhnya cahaya dari sisi atau dari atas), ketiadaan glare, dan rendering warna yang baik. Kondisi pencahayaan ruang kantor dapat mempengaruhi perubahan mood pengguna ruang. Perubahan mood yang diasosiasikan dengan lingkungan fisik dapat dibedakan menjadi respon tahap jangka pendek dan tahap jangka panjang yang melibatkan kebiasaan. Jika kebiasaan pengguna ruang menerima lingkungan penerangan yang sama terus-menerus, maka perubahan mood ketika memasuki ruangan tersebut akan berkurang sedikit demi sedikit dan kemudian cenderung normal kembali. Perubahan mood dapat terjadi karena kebutuhan dan karakter tiap orang berbeda, sehingga ketika digeneralisasikan, tidak semua pengguna ruang dapat menerimanya.
Penelitian yang dilakukan Escuyer dan Fontoynont, mengadopsi metode wawancara tidak langsung untuk mensurvey kecenderungan intensitas penerangan yang disukai oleh para pekerja di Perancis melalui lingkungan kerjanya. Hasilnya, 44% responden mengatakan bahwa ”memiliki pencahayaan alami yang sedikit” adalah karakteristik utama pada sebuah kantor. Hasil menunjukkan bahwa untuk yang bekerja menggunakan komputer, intensitas pencahayaan yang disukai berkisar antara 100-300 lux. Sementara untuk yang jarang menggunakan komputer, intensitas pencahayaan yang disukai lebih tinggi, berkisar antara 300-600 lux. Standard pencahayaan untuk berbagai jenis fungsi ruang yang direkomendasikan IESNA mencakup beberapa parameter, termasuk usia dan jenis visual task yang dilakukan. Makin bertambahnya usia, standard pencahayaan menjadi lebih tinggi. Dari rekomendasi IESNA, desain pencahayaan ruang kantor untuk jenis pekerjaan dengan menggunakan komputer dapat dikategorikan pada kelompok C, yang membutuhkan tingkat iluminasi sebesar 100-150-200 Lux. Sedangkan untuk membaca, dapat dikategorikan dalam kelompok D dengan tingkat iluminasi sebesar 200-300-500 Lux.
Referensi :
Munandar, AS. 1994. Pengantar Kuliah Psikologi Industri I. Edisi 1. Karunika Jakarta.
Nurmianto, E. 1996. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta : PT Guna
Widya
batikyogya.wordpress.com/category/ergonomi-kerja/ -
one.indoskripsi.com/node/8861
avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/psikologilingkungan_avin.pdf
jurnal.budiluhur.ac.id/wp-content/uploads/…/skets-endang-mei-2007.pdf
www.machinevision.ie/id/machine-vision-illumination.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar