Minggu, 17 April 2011

3 Fokus Olahraga Pascamelahirkan


KOMPAS.com - Perempuan punya perhatian khusus soal tubuh ideal, termasuk seusai melahirkan. Alhasil berbagai cara dilakukan untuk mengembalikan bentuk tubuh agar lebih proporsional, seperti olahraga. Jika upaya ini juga Anda lakukan, namun hasilnya belum terlihat, bisa jadi olahraga tak berfokus pada tiga hal: latihan aerobik, latihan kekuatan, dan fleksibilitas dengan peregangan, demikian menurut Dicky Ramadhani, Head of Coach Celebrity Fitness.
"Fokus utama olahraga untuk menurunkan berat badan adalah pada pembakaran kalori, jadi lakukan latihan aerobik. Bentuk latihannya bisa dengan treadmill, sepeda statis, atau kelas aerobik dalam berkelompok," jelas Dicky, seusai peluncuran program Soyjoy Healthylicious di Hotel Nikko, Jakarta, Selasa (12/4/2011) lalu.
Latihan aerobik bisa dilakukan lebih intens dibandingkan kekuatan otot atau peregangan. Meski begitu, jika olahraga sudah dilakukan rutin, sebaiknya porsi latihan diseimbangkan antara aerobik, latihan otot, dan fleksibilitas (peregangan). Prinsip berolahraga juga perlu didasarkan pada rumus FITT (Frekuensi, Intensitas, Time/durasi, Type/jenis olahraga).
Nah, jika Anda menargetkan turun berat seusai melahirkan, lakukan latihan jenis aerobik 20 menit (durasi), 3-5 kali seminggu (frekuensi). Kombinasikan dengan latihan otot dengan durasi dan frekuensi sama. Di sela kedua latihan ini Anda bisa melakukan latihan fleksibilitas atau peregangan. Total durasi olahraga sebaiknya 60 menit per hari, selama maksimal lima kali dalam seminggu, kata Dicky.
"Aerobik melancarkan peredaran darah sekaligus membakar kalori. Sementara latihan kekuatan otot bertujuan memadatkan massa otot untuk membantu tubuh membakar kalori. Kombinasi latihan inilah yang membantu perempuan menurunkan berat badan pascamelahirkan," lanjutnya. Khusus latihan otot, Dicky menyarankan lakukan 20 repetisi, maksimal 3-5 set. Namun, katanya lagi, jangan terlalu direpotkan dengan urusan hitung-hitungan set dan repetisi.
"Ukur saja durasi latihan dari waktu, misalnya 20 menit latihan otot. Atau lakukan latihan sampai tubuh terasa pegal atau lemas. Saat tubuh merasa sudah maksimal melakukan latihan otot, Anda bisa menuntaskan olahraga," jelasnya.

Penulis: Wardah Fazriyati | Editor: Dini


Sumber :
http://female.kompas.com/read/2011/04/13/09055981/3.Fokus.Olahraga.Pascamelahirkan

Pakai Bra Saat Tidur Cegah Payudara Kendur


KOMPAS.com - Ingin payudara Anda tetap kencang dan tidak kendur, sekarang dan sampai tua nanti? Tirulah cara presenter TV Mariella Frostrup (48), yang selalu tidur dengan tetap mengenakan bra. Perempuan bersuara husky ini memang tetap dikenal dengan status simbol seks di usianya yang matang.
 
Rahasianya ini terungkap ketika Mariella diwawancara oleh majalah Easy Living. Dalam wawancara, host BBC Radio 4 dan Sky Arts ini mengaku sulit menghadapi proses penuaannya. "Ambisi saya supaya tidak mengalah dengan tekanan mitos kecantikan. Dalam pikiran rasional saya, kita tidak bisa tetap muda selamanya. Tapi memang, kadang-kadang saya menatap cermin dan berpikir, 'Ya tuhan, saya nggak percaya rahang saya bisa terlihat seperti ini. Setelah ini apa lagi?'" tutur Mariella.

Namun ibu dua anak ini lalu mengakui bahwa ia tetap berusaha agar penampilannya tetap menarik. Salah satunya dengan mengikuti saran mendiang Paula Yates, mantan pasangan Michael Hutchence (vokalis INXS), untuk selalu memakai bra ketika tidur. Kebiasaan ini lalu diterapkannya, dan sudah berlangsung selama 15 tahun terakhir.
Namun, kebiasaan Mariella mengenakan bra-nya 24 jam sehari ini mengundang perdebatan di kalangan pakar kesehatan. Para ahli terbagi ada yang setuju dan tidak setuju bahwa memakai bra sepanjang hari bisa mencegah proses penuaan secara alami.
"Hal itu akan meminimalkan peregangan dan pengaruh gravitasi," kata dokter bedah plastik Douglas McGeorge, namun mengakui bahwa banyak perempuan yang merasa tidak nyaman bila harus tidur tanpa melepas bra.
Pandangan ini berbeda dengan pendapat Dr Elizabeth Vaughan, yang selama lebih dari 25 tahun menyarankan pasiennya untuk tidak memakai bra.

"Payudara itu berisi jaringan getah bening, yang tidak bisa memompa seperti jantung. Gerakan dan tekanan membantu menghilangkan racun-racun  di sekujur sistem getah bening. Apapun yang memperlambat pembersihkan racun-racun ini akan meningkatkan risiko mengembangkan gejala-gejala atau penyakit. Bra yang membatasi gerakan payudara akan meningkatkan kemampatan. Memperlambat pembersihan racun-racun dari payudara juga akan meningkatkan jumlah perempuan yang terkena penyakit payudara," katanya.

Memang sedikit membingungkan, mana pendapat yang perlu diikuti. Namun seperti kata Grete Braughton-Smith, spesialis perawatan klinis di Breast Cancer Care, memakai bra atau tidak lebih merupakan pilihan pribadi, dan lebih karena kenyamanan saja daripada faktor lainnya.

Grete mengatakan, beberapa perempuan -khususnya yang berpayudara besar- memang tak masalah dengan penggunaan bra siang-malam. Misalnya, selama kehamilan atau sesudah persalinan, pasiennya selalu disarankan untuk mengenakan bra ketika tidur, jika mereka merasa lebih aman.

"Ada juga kondisi yang tidak ideal untuk mengenakan bra pada saat tidur, namun yang penting diperhatikan adalah bawa mengenakan bra sepanjang waktu tidak meningkatkan risiko kanker payudara," tegasnya.

Jadi, Anda nyaman atau tidak kalau harus terus memakai bra sepanjang hari? Semuanya terserah Anda. Sekadar informasi, Marilyn Monroe pun diyakini mampu mempertahankan payudara indahnya yang berukuran 36D karena selalu mengenakan bra sepanjang waktu.

Penulis: Felicitas Harmandini | Editor: Dini


Sumber: The Daily Mail
http://female.kompas.com/read/2011/04/11/10513936/Pakai.Bra.Saat.Tidur.Cegah.Payudara.Kendur

Ada Monyet Makan seperti Sapi


Bekantan (Nasalis larvatus). 

KOMPAS.com — Hewan memamah biak, seperti sapi, dikenal memiliki empat perut. Kala makan, makanan akan masuk ke salah satu rongga perut dan kemudian dimuntahkan lagi ke mulut. Setelahnya, barulah makanan masuk ke perut lainnya dan diserap oleh usus dan sampahnya dibuang melalui anus.
Cara makan itu mulanya hanya ditemukan pada hewan memamah biak. Tapi, baru-baru ini ilmuwan menemukan bahwa monyet hidung panjang atau bekantan (Nasalis larvatus) yang berhabitat di Sungai Kinabatangan, Malaysia, juga memiliki perilaku serupa. Monyet itu memuntahkan lagi makanan yang telah ditelan untuk dikunyah ulang.
Ikku Matsuda dari Institut Primata Universitas Kyoto adalah ilmuwan yang menemukan perilaku tersebut. Ia mengoleksi data dengan videotape sejak 2000-2001. Berdasarkan datanya, setidaknya 23 monyet hidung panjang memiliki perilaku memuntahkan dan mengunyah makanan layaknya sapi.
Matsuda menguraikan, perut monyet hidung panjang akan berkontraksi ketika hendak memuntahkan makanan. Pada saat yang sama, monyet akan melekatkan lidahnya di luar mulutnya yang mengatup rapat. Makanan yang keluar akan berada beberapa lama di mulut  sebelum ditelan untuk kedua kali.
Menurut Matsuda, perilaku monyet tersebut berkaitan dengan struktur organ pencernaannya. "Saluran pencernaan monyet hidung panjang berbeda dengan manusia dan monyet. Jenis ini memiliki struktur perut atas khusus di mana pencernaan oleh bakteri berlangsung sebelum pencernaan kimiawi," katanya.
Matsuda berspekulasi bahwa perilaku ini memungkinkan monyet hidung panjang makan lebih banyak pada kondisi tertentu. Ia juga mengatakan, "Ini berarti, monyet hidung panjang bisa makan lebih cepat sebab bakteri tak membutuhkan banyak waktu untuk mencerna."
Monyet hidung panjang biasanya memakan beragam macam daun dan buah. Diet hewan jenis ini sangat kaya serat. Meski jenis makanan dan struktur organ pencernaan hewan jenis ini diketahui, Matsuda tak bisa mengaitkan jenis makanan dengan perilaku memamah biak yang dimiliki.
Menanggapi penelitian ini, professor Institute of Anatomy and Cell Biology di Justus Liebig University mengatakan, "Penting untuk menjelaskan bahwa ruminasi pada hewan seperti sapi memuntahkan dan mengunyah makanan kembali pada mamalia adalah proses fisiologi yang berbeda."
Profesor yang menulis buku Mammalian Herbivore "Stomach: Comparative Anatomy, Function and Evolution ini mengatakan bahwa koala juga memiliki perilaku serupa. Namun, mereka hanya melakukannya dalam kondisi tertentu, seperti karena gigi telah tanggal atau membutuhkan makanan lebih karena menyusui.
Matsuda mengungkapkan bahwa studinya hanya terfokus pada populasi monyet tertentu saja sehingga perilaku itu mungkin dipelajari lewat tradisi. "Tradisi, terutama pada perilaku makan, telah dilaporkan pada primata, misalnya (monyet) macaca yang mencuci makanan atau membumbuinya dengan air garam. Kita tak bisa mengabaikan tradisi itu," ujarnya.

Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono

Sumber :
DISCOVERY
http://sains.kompas.com/read/2011/03/31/20244972/Ada.Monyet.Makan.seperti.Sapi